Rabu, 17 Februari 2010

Dosa Suporter Tanggung Jawab Klub

AKIBAT nila setitik, rusak susu sebelanga. Istilah itu mungkin paling tepat, untuk menggambarkan klub di Liga Indonesia dengan para pendukungnya. Sikap tidak fair dan provokasi rasisme yang ditunjukkan dari suporter maupun pemain, kerap berujung pada kerusuhan massal dan berakhir sanksi berat bagi klub sepak bola.

Rasisme atau tindakan tidak fair yang bertujuan melecehkan pemain atau tim dan suporter lain adalah perbuatan yang diharamkan pada sepak bola. Saat ini, seluruh dunia dan FIFA sendiri tengah gencar-gencarnya memerangi sikap rasisme, untuk mengembalikan sepak bola kepada filosofi dasarnya yaitu sepak bola adalah kesenangan yang menghibur dan cinta damai.

"Sepak bola itu menjunjung tinggi fair play dan menjauhi rasisme. Kesebelasan yang bertanding harus selevel, dalam arti tidak boleh ada yang diintimidasi sedikit pun dari suporter atau tim tuan rumah kepada tim lawan. Kehadiran pendukung di bangku penonton bukanlah untuk mencaci maki lawan, tetapi untuk menyemangati timnya yang sedang bertanding," kata Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Hinca Panjaitan, pada sosialisasi rasisme dalam sepak bola di Cafe Persib Jln. Sulanjana Kota Bandung, Selasa (16/2).

Acara ini dihadiri puluhan bobotoh Persib dan berbagai kalangan, Manajer Persib H. Umuh Muchtar, dan sejumlah pengurus PT Persib Bandung Bermartabat.

Semua tahu bahwa sepak bola adalah olah raga memiliki aturan yang tegas dan jelas. Dan aturan tersebut haruslah dijunjung tinggi dan dihormati semua pihak baik itu pemain, ofisial, wasit, penonton, atau siapa pun yang menyatakan diri sebagai insan sepak bola. Namun menurut Hinca, sepak bola Indonesia dalam dua tahun terakahir malah marak dengan aksi rasisme. Padahal, seluruh dunia sedang berupaya membuang jauh rasisime dari sepak bola.

"Komdis akan tindak tegas setiap aksi rasisme, apakah itu ucapan, tingkah laku, tulisan, gerakan tubuh, dan tindakan lainnya yang bermaksud melecehkan tim lawan maupun tim yang didukungnya sendiri. Kita akan kenakan sanksi berat, pada tindakan rasisme dari siapa pun dan sekecil apa pun," katanya.

Sanksi atas tindakan rasisme sendiri, tertuang jelas dalam aturan FIFA, AFC, dan termasuk dalam aturan PSSI yang dijalankan oleh komisi khusus disiplin atau komdis. Adanya aturan yang jelas, bisa memastikan ulah negatif sekecil apa pun dari segelintir oknum suporter akan ditanggung sebesar-besarnya oleh klub.

Di sanalah mungkin yang harus menjadi fokus perhatian utama klub, selain menghadirkan prestasi. Klub harus mampu membina suporternya dan siapa pun yang menjadi insan sepak bola, harus paham bahwa sepak bola memiliki aturan. "Sosialisasi hukum pada sepak bola adalah tanggung jawab semua yang berkecimpung dalam dunia persepak bolaan di mana pun," kata Hinca.

Sikap suporter yang rasis, sebenarnya bisa menjadi senjata makan tuan bagi kesebelasan yang didukungnya. Satu saja pendukung melakukan tindakan rasisme, tim yang didukungnya akan menghadapi sanksi berat mulai dari denda ratusan juta rupiah, hingga larangan tampil di semua kompetisi yang digelar.

Persib Maung Bandung sendiri pernah mengalami sanksi pada 2008. Saat itu, suporter dilarang mengenakan atribut selama beberapa pertandingan, sebagai hasil dari aksi kerusuhan oleh bobotoh yang tidak bertanggung jawab saat menjamu Persija Jakarta.

Manajer Persib H. Umuh Muchtar berharap, bobotoh Persib bukanlah suporter yang tidak pernah belajar dari kesalahan. Pihaknya berharap bobotoh Persib adalah suporter yang bisa menjadi contoh baik bagi persepakbolaan nasional. "Persib harus terus kita dukung untuk menjadi juara dan bobotoh juga harus mampu menunjukkan sebagai yang terbaik dan menjadi contoh bagi suporter kesebelasan lainnya," kata Umuh. (Krishna Ahadiyat/"PR")***

Source: PR



0 komentar:

Posting Komentar